Pesona
Cinta di Bumi Moskow
Musim dingin telah tiba menyelimuti
kota Moskow, Rusia. Maulana Azkar bergegas menyusuri jalan kecil dan sepi yang
mengarah ke gedung apartemennya. Ia merupakan seorang mahasiswa dari Indonesia yang
tengah menyelesaikan penelitiannya di
negeri tirai besi ini. Azkar memilih untuk meneliti tentang perkembangan
masyarakat muslim di Moskow.
Tahun
ini adalah tahun pertamanya di Moskow. Selama ini Azkar tinggal di sebuah
apartemen yang berada tak jauh dari pusat kota. Gedung itu hanya bangunan tua
tingkat dua berukuran kecil. Setiap lantainya memiliki 2 kamar yang berhadapan
dan 1 dapur umum. Tidak ada lift, yang ada hanyalah tangga yang berukuran
sedang. Azkar sendiri menempati apartemen 202 di lantai 2. Kamar 201 saat ini
ditinggali oleh seorang wanita cantik Rusia yang bernama Veronica.
“Kau sudah pulang rupanya. Astaga.. tubuhmu
dingin sekali. Memang kota ini terkenal dengan cuacanya yang sangat ekstrim
pada musim dingin. Ayo Azkar, masuklah sebelum kau mati membeku diluar. Aku
telah membuat 2 cangkir cokelat panas di dapur.” Ajak wanita yang berumur
sekitar 20 tahun.
Keduanya segera menaiki anak tangga dengan
beriringan menuju dapur umum yang terletak di lantai 2. Dan benar saja, disana
terdapat 2 cangkir cokelat panas yang telah tersaji dengan rapi. Azkar segera
menyesap cokelat panasnya pelan dan menikmati kehangatan yang ia rasakan disekujur
tubuhnya
“Bagaimana penelitianmu? Apakah
sudah selesai?” Tanya wanita tersebut yang kemudian memecah kesunyian diantara
mereka.
“Belum Veronica. Masih ada beberapa
hal yang harus kuteliti.” Jawab Azkar yang masih sibuk dengan cokelat panasnya.
Azkar tersadar akan sesuatu ketika
melirik arloji yang ia kenakan. “Astaga.. ini sudah jam 10 malam. Aku pamit
dulu ke kamar.” Jawabnya sembari berjalan meninggalkan dapur.
“Tunggu, kau mau apa?” Suara Veronica
menghentikan langkah Azkar dan membuat pria itu menoleh ke arahnya.
“Shalat.”
“Oh jadi kau seorang muslim. Aku
baru tahu itu.”
“Ya, aku lupa memberitahukanmu tentang
itu. Dan kau pasti mmm.. Kristen?”
“Hahaha… bukan, aku bukan orang
Kristen. Aku seorang Atheis.” Jawaban Veronica membuat Azkar tercengang.
“Bagaimana bisa? Jadi kau tak
percaya adanya Tuhan?” Tanya Azkar dengan penasaran.
“Ya seperti yang kau bilang tadi,
aku tak percaya akan adanya Tuhan. Mereka berpikir bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan
hidup di saat-saat sulit mereka. Tapi menurutku, Tuhan itu tidak menyelamatkan
hidup mereka, melainkan merekalah yang menyelamatkan hidupnya sendiri dengan
berusaha mencari jalan keluar dari masalah mereka. Mereka itu bodoh. Bagaimana
bisa mereka memohon dan menyerahkan diri kepada sesuatu yang belum pernah
mereka lihat? Itu semua hanyalah permainan pikiran semata.”
Jawaban
Veronica membuat hati Azkar semakin panas. Azkar tidak menyangka bahwa Veronica
akan mengatakan hal yang seperti ini. Bagaimana mungkin wanita ini berkata
demikan kepada penciptanya sendiri? Sungguh miris.
“Terserah
apa katamu. Menurutku, Tuhan itu ada dan tuhan akan memberikan pertolongan
kepada setiap hamba yang memohon kepadanya.” Ujar Azkar dengan nada marah
seraya meninggalkan Veronica yang tengah duduk mematung mendengar ucapannya.
***
“Musim dingin di Moskow benar-benar
ekstrim. Aku harus bergegas pergi sebelum cuacanya semakin dingin.” Ujar Azkar
sembari memandangi salju yang melayang-layang diluar.
Ia bergegas mempersiapkan diri untuk
pergi ke perkampungan muslim untuk menyelesaikan penelitiannnya. Ia mengambil pakaian
musim dinginnya dan segera menarik gagang pintu kamarnya. Tanpa ia sadari,
seorang wanita telah berdiri lebih dulu di hadapannya.
“Zdrastuitye, dobroye utro! (halo,
selamat pagi). Kau ingin pergi kemana sepagi ini?” Tanya Veronica yang telah
berpakaian rapi.
“Aku ingin ke suatu tempat untuk
menyelesaikan penelitianku. Kau sendiri?”
“Ah, aku ingin ke tempat kerja.
Kalau begitu mengapa kita tidak pergi bersama-sama saja?” Ajak Veronica.
“Baiklah.”
Di sepanjang perjalanan, Veronica
tak henti-hentinya untuk berbicara tentang Moskow. Mulai dari masyarakatnya
hingga tempat wisata yang harus di kunjungi ketika berada di sini. Ya.. Red
Square. Red Square memang telah terkenal di seluruh penjuru dunia dan merupakan
simbol dari bumi Rusia.
“Azkar
aku ingin bertanya sesuatu. Ini tentang Islam. Tadi malam selepas minum cokelat
panas, aku mencari-cari informasi tentang Islam di internet. Aku menemukan
kejanggalan di hatiku saat membaca bahwa orang islam harus menghadap kiblat
ketika akan beribadah. Nah pertanyaanku, kiblat itu apa? Dan mengapa harus
menghadap kiblat ketika ingin beribadah?”
Pertanyaan Veronica membuat Azkar
keheranan. Bagaimana mungkin wanita yang semalam mengatakan bahwa ia seorang Atheis
yang tidak percaya dengan adanya Tuhan tiba-tiba saja tertarik untuk membahas
soal agama? Benar-benar tidak bisa di mengerti.
“Baiklah aku mulai dari kiblat dulu.
Kiblat adalah kata arab yang merujuk pada arah yang dituju saat seorang muslim
berbibadah. Alasan umat muslim harus menghadap kiblat karena itu merupakan
ketetapan Tuhan. Selain itu, menghadap kiblat berarti sebagai pembeda umat
muslim dengan umat yang lainnya dan juga
sebagai simbol persatuan untuk memudahkan umat muslim dalam beribadah agar
tidak kebingungan.”
“Oh begitu.” Jawab Veronica singkat.
“Ya. Kalau aku boleh tahu,
pekerjaanmu apa?” Pertanyaan Azkar membuat Veronica tersentak kaget. Entah apa
yang membuat wajah wanita ini memucat. “Salahkah pertanyaan ku?” Gumam Azkar
dalam hati.
“Aku bekerja sebagai pemandu wisata
di Moskow. Oh ya Azkar, mungkin kita harus berpisah di sini. Aku harus
mengambil jalan ke kanan. Semoga sukses.”
“Ya. Kau juga.” Ujar Azkar sembari
melangkahkan kakinya menembus tebalnya salju di sepanjang jalan.
***
“Terima kasih atas informasinya.
Jangan lupa untuk menghubungiku jika ada
perkembangan muslim di sini.” Ujar Azkar sembari bersalaman dengan pria paruh
baya yang dikenalnya sebagai pengurus perkampungan muslim yang ia datangi.
Azkar kemudian menoleh. Matanya tak
sengaja menangkap seorang wanita cantik di seberang jalan. Wanita itu sedang
berjalan bersama dengan seorang pria yang bertubuh hitam legam, sepertinya
berkebangsaan Negro.
“Veronica!” Azkar mencoba untuk
memanggilnya, tapi wanita yang bernama Veronica itu tak kunjung menoleh.
“Kau kenal dengan wanita itu? Dimana
kau mengenalnya?” Tanya Pria pengurus perkampungan itu sembari menunjuk ke arah
Veronica.
“Ya. Dia itu tinggal di apartemen
yang sama denganku. Namanya Veronica.”
“Apa kau tidak tahu siapa wanita
itu? Dia itu pelacur yang sangat terkenal di kota Moskow ini.”
“Tidak mungkin. Dia itu bekerja
sebagai pemandu wisata.” Kata Azkar seraya berusaha untuk menjelaskan.
“Kalau kau tidak percaya. Silahkan
ketik nama Veronica Roxane di internet, pasti hasilnya dia itu adalah seorang
pelacur yang profesional.”
“Ah kalau begitu aku mohon pamit.
Wassalamu alaikum.” Ucap Azkar sembari melangkahkan kakinya untuk menjauh dari
perkampungan itu.
Pikirannya melayang tak tentu arah.
Dia masih tak percaya bahwa wanita yang selama ini yang ia percayai dan ia
anggap sebagai wanita yang baik-baik, justru malah mengagetkannya dengan
berprofesi sebagai pelacur. Azkar teringat sesuatu yang hampir ia lupakan di
Moskow. Ya.. berlibur. Mungkin inilah saat yang tepat untuk melihat megahnya
bangunan-bangunan di Red Square.
Pertama kali ia tiba di kawasan Red
Square, seketika itu juga ia telah disuguhkan berbagai pemandangan menakjubkan
yang terbentang di depan mata. Tepat didepannya, kini berdirilah sebuah
bangunan yang sangat megah, seakan mengisyaratkan bahwa betapa istimewanya bangunan
tersebut. Itulah kremlin, yang terkenal di seluruh dunia sebagai benteng
bersejarah yang masih menjaga eksistensinya sampai sekarang. Bangunannya
mempunyai luas 27,5 ha dengan panjang temboknya lebih dari 2 km. Tidak hanya
itu, kremlin juga mempunyai 20 menara. Yang paling terkenal adalah Menara
Spasskaya dengan jam bergaris tengah 6m.
Tak jauh dari bangunan kremlin,
persis di seberang Menara Spasskaya terdapat pula bangunan yang tak kalah
indahnya dari kremlin. Bangunan yang menjadi ciri khas kota Moskow, apalagi
kalau bukan Katredal. Katredal, sebuah bangunan tinggi khas dengan kubahnya
yang unik dan menarik, serta berwarna-warni bagaikan lollipop, dulunya
dijadikan sebagai gereja bagi Kristen Ortodoks. Bentuk kubahnya menyerupai
bentuk bawang, tetapi itulah yang membuatnya semakin menarik bagi pelancong
asing. Perpaduan dari arsitruktur Eropa dan Asia menambah keeksotisan bangunan
ini. Subhanallah, INILAH RUSIA!
***
Tampak seorang lelaki bertubuh hitam
legam dengan kasarnya sedang menurunkan seorang wanita dari sebuah mobil
berwarna merah. Wajah wanita itu terlihat pucat dan memar dimana-mana. Lelaki
tersebut kemudian memacu mobil merahnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan
wanita itu terbaring lemah tak berdaya di pinggir jalan.
“Mengapa aku diperlakukan seperti
ini? Bukannya aku telah melayaninya dengan baik? Aku bahkan membiarkannya
memukulku agar dirinya puas dengan pelayananku.” Gumam wanita itu seraya
terbata-bata.
“Sepertinya tubuhku tidak dapat
kugerakkan ditambah salju malam ini telah turun kembali. Bagaimana ini? Apa
yang harus kulakukan?” Ucap wanita itu kembali seraya memandangi sebagian
tubuhnya yang telah ditutupi oleh tebalnya salju.
“Tolong…
tolong siapa saja tolong aku.” Teriak wanita itu dengan suara parau. Tetapi,
percuma saja, tidak ada seorang pun disana. Akhirnya ia menyerah dengan
usahanya. Seketika wanita itu tersentak, teringat akan sesuatu yang hampir ia
lupakan.
“Tuhan? Apakah saat-saat inilah aku
bisa mempercayai tuhan? Apakah tuhan itu memang benar-benar ada? Tapi apa yang
bisa kulakukan selain mempercayai itu? Tuhan, jika engkau memang benar ada,
memang menolong semua hambamu. Aku mohon tuhan. Aku mohon tolonglah aku dari
salju ini. Aku sudah tak berdaya, aku pasrah tuhan.”
***
“Astaga aku sampai tidak sadar kalau
ini telah jam 11 malam. Aku harus segera pulang keapartemen, jika tidak aku
akan menjadi beku kedinginan diluar sini.” Azkar kemudian berjalan dengan cepat
menuju apartemennya. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika ia melihat sesuatu
yang berkilauan. Ia mendekati sumber kilauan tersebut. Tapi betapa kagetnya ia
bahwa kilaun tersebuat adalah cincin yang sedang terpasang dijari seorang
wanita.
“Astaga apakah ini benar-benar
manusia? Kasihan sekali dia, Sebagian tubuhnya telah tertutup salju. Hanya
jarinya saja yang tak tertutupi.” Azkar kemudian mencoba menghilangkan salju dari tubuh si wanita.
Azkar terkejut saat melihat wanita itu. Itu adalah Veronica. Yah Veronica, yang
menjadi teman seapartemennya. Azkar bergegas menggendongnya sambil berlari
menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit Azkar
segera membawanya ke ruang perawatan. Disana ia dipersilahkan duduk untuk
menunggu dokter selesai memeriksa Veronica. Setelah agak lama, akhirnya dokter
tersebut keluar dan mengatakan bahwa Veronica akan baik-baik saja. Dokter
tersebut juga mempersilahkan Azkar untuk masuk ke ruang perawatan Veronica.
Azkar termenung memandang wajah
cantik Veronica yang tengah tertidur. Sesekali ia juga membelai rambut Veronica
dengan rasa iba. “Rasanya aku tidak percaya bahwa kau itu adalah seorang
pelacur. Bagaimana mungkin wanita seceria dirimu bisa terjerumus kedunia
seperti itu. Kau tahu? Saat tadi sore aku melihatmu berjalan dengan pria hitam
itu, aku merasa ada sesuatu yang aneh didalam hatiku. Rasanya hatiku itu marah,
dan kesal. Tapi aku tak tahu mengapa. Apa mungkin aku suka padamu? Kau adalah
seorang Atheis dan aku? Aku adalah seorang muslim. Bagaimana bisa? Sepertinya
aku juga sudah gila berbicara padamu yang tengah tertidur.” Azkar tersenyum dan
kembali memandang Veronica dengan tatapan yang dalam.
“Azkar.... kau itu tidak gila. Aku
sedari tadi mendengarkan ucapanmu yang panjang itu.” Ujar Veronica dengan
terbata-bata.
Azkar terkejut mendengar perkataan
Veronica. Dengan cepat kilat ia menarik tangannya dari rambut Veronica. “Bagaimana
keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?” Tanya Azkar khawatir.
“Ya. Mmm Azkar….mmm maukah kau mmm
mengajariku tentang islam?” Kedua mata Azkar kini terbelalak tak percaya
mendengar perkataan Veronica. Bagaimana mungkin ini dapat terjadi?
“Subhanallah, apakah itu benar
Veronica? Apa yang membuatmu kini percaya dengan adanya Tuhan?”
“Soal itu, nanti akan ku ceritakan.
Yang pasti aku yang sekarang ini ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik
lagi. Dan mmm soal kau menyukaiku… aku rasa aku tidak pantas untukmu.” Seketika
itu juga raut wajah Azkar yang semula bahagia kini berganti dengan raut wajah
yang kecewa.
“Yah.. aku memang tidak pantas
untukmu. Aku ini kotor Azkar, kotor. Bagaimana mungkin aku yang pela…” Belum
selesai Veronica bicara, Azkar telah menempelkan jari telunjuk di bibir
Veronica.
“Aku tahu, kau itu adalah seorang
pelacur. Bukankah sudah kukatan, aku juga melihatmu berjalan dengan pria
berkulit hitam itu. Tapi itu adalah Veronica yang dulu. Veronica sekarang pasti
ingin berubah menjadi wanita yang baik. Bukankah begitu? Jadi apalagi yang kau
resahkan? Mmm Veronica maukah kau… menerimaku?” Veronica tersentak sembari
meneteskan air matanya. Merasa tak percaya dengan semua ini.
“Azkar, hanya wanita bodoh yang mau
menolak permintaan dari pria sebaik dirimu. Dan ya kau tahu jawabannya, aku
mau.” Azkar langsung tersenyum lega mendengarnya.
“Veronica kau tahu? memang Red
Square adalah sesuatu yang menarik di Rusia ini dan harus dikunjungi. Tapi
hatiku berkata lain, ada sesuatu hal yang menarik selain Red Square di bumi
Rusia. Maukah kau tahu apa itu?” Tanya Azkar sembari tersenyum.
“Memangnya apakah ada hal yang lebih
menarik selain Red Square?” Tanya Veronica penasaran.
“Ya tentu saja ada. Yaitu
dirimu.”
sertakan pendapatmu di kolom komentar yooo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jangan lupa komentar yah ^_^