Kamis, 02 Juli 2015

CERPEN !!! come back ! gomen -__-

loha ??? apa kabar ? gomen udah lama gue ga buka ni blog sampe sampe udah banyak sarang laba-laba yang hinggap cetar membahana :D . ok sebenernya untuk postingan come back, gue pengen ngeshare salah satu cerpen gue. cerpen ini pernah gue ikutin lomba di oase dan jeng jeng jengggg naskah gue kepilih 60 naskah terbaik loh dan jadi kontributor. semua naskah yang kepilih bakalan diterbitin jadi buku dan untuk para kontributor (termasuk gue) yg mo pesen, bakaln dapet diskon 20% cuyy (senengya :) ) . ya tapi itu dia, datengnya ga sesuai dengan keadaan kantong gue yg lagi kering -___- . yapsss gue akhirnya ga jadi beli. so buat lo semua yg pnasaran dengan cerpen gue, nih gue kasih. tapi inget !!! klo mo copy paste ni cerpen harus nyertain sumbernya loh . ok ? :D

Pesona Cinta di Bumi Moskow
            Musim dingin telah tiba menyelimuti kota Moskow, Rusia. Maulana Azkar bergegas menyusuri jalan kecil dan sepi yang mengarah ke gedung apartemennya. Ia merupakan seorang mahasiswa dari Indonesia yang tengah menyelesaikan penelitiannya di  negeri tirai besi ini. Azkar memilih untuk meneliti tentang perkembangan masyarakat muslim di Moskow.
Tahun ini adalah tahun pertamanya di Moskow. Selama ini Azkar tinggal di sebuah apartemen yang berada tak jauh dari pusat kota. Gedung itu hanya bangunan tua tingkat dua berukuran kecil. Setiap lantainya memiliki 2 kamar yang berhadapan dan 1 dapur umum. Tidak ada lift, yang ada hanyalah tangga yang berukuran sedang. Azkar sendiri menempati apartemen 202 di lantai 2. Kamar 201 saat ini ditinggali oleh seorang wanita cantik Rusia yang bernama Veronica.
             “Kau sudah pulang rupanya. Astaga.. tubuhmu dingin sekali. Memang kota ini terkenal dengan cuacanya yang sangat ekstrim pada musim dingin. Ayo Azkar, masuklah sebelum kau mati membeku diluar. Aku telah membuat 2 cangkir cokelat panas di dapur.” Ajak wanita yang berumur sekitar 20 tahun.
            Keduanya segera menaiki anak tangga dengan beriringan menuju dapur umum yang terletak di lantai 2. Dan benar saja, disana terdapat 2 cangkir cokelat panas yang telah tersaji dengan rapi. Azkar segera menyesap cokelat panasnya pelan dan menikmati kehangatan yang ia rasakan disekujur tubuhnya
            “Bagaimana penelitianmu? Apakah sudah selesai?” Tanya wanita tersebut yang kemudian memecah kesunyian diantara mereka.
            “Belum Veronica. Masih ada beberapa hal yang harus kuteliti.” Jawab Azkar yang masih sibuk dengan cokelat panasnya.
            Azkar tersadar akan sesuatu ketika melirik arloji yang ia kenakan. “Astaga.. ini sudah jam 10 malam. Aku pamit dulu ke kamar.” Jawabnya sembari berjalan meninggalkan dapur.
            “Tunggu, kau mau apa?” Suara Veronica menghentikan langkah Azkar dan membuat pria itu menoleh ke arahnya.
            “Shalat.”
            “Oh jadi kau seorang muslim. Aku baru tahu itu.”
            “Ya, aku lupa memberitahukanmu tentang itu. Dan kau pasti mmm.. Kristen?”
            “Hahaha… bukan, aku bukan orang Kristen. Aku seorang Atheis.” Jawaban Veronica membuat Azkar tercengang.
            “Bagaimana bisa? Jadi kau tak percaya adanya Tuhan?” Tanya Azkar dengan penasaran.
            “Ya seperti yang kau bilang tadi, aku tak percaya akan adanya Tuhan. Mereka berpikir bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan hidup di saat-saat sulit mereka. Tapi menurutku, Tuhan itu tidak menyelamatkan hidup mereka, melainkan merekalah yang menyelamatkan hidupnya sendiri dengan berusaha mencari jalan keluar dari masalah mereka. Mereka itu bodoh. Bagaimana bisa mereka memohon dan menyerahkan diri kepada sesuatu yang belum pernah mereka lihat? Itu semua hanyalah permainan pikiran semata.”
Jawaban Veronica membuat hati Azkar semakin panas. Azkar tidak menyangka bahwa Veronica akan mengatakan hal yang seperti ini. Bagaimana mungkin wanita ini berkata demikan kepada penciptanya sendiri? Sungguh miris.
“Terserah apa katamu. Menurutku, Tuhan itu ada dan tuhan akan memberikan pertolongan kepada setiap hamba yang memohon kepadanya.” Ujar Azkar dengan nada marah seraya meninggalkan Veronica yang tengah duduk mematung mendengar ucapannya.
***
            “Musim dingin di Moskow benar-benar ekstrim. Aku harus bergegas pergi sebelum cuacanya semakin dingin.” Ujar Azkar sembari memandangi salju yang melayang-layang diluar.
            Ia bergegas mempersiapkan diri untuk pergi ke perkampungan muslim untuk menyelesaikan penelitiannnya. Ia mengambil pakaian musim dinginnya dan segera menarik gagang pintu kamarnya. Tanpa ia sadari, seorang wanita telah berdiri lebih dulu di hadapannya.
            “Zdrastuitye, dobroye utro! (halo, selamat pagi). Kau ingin pergi kemana sepagi ini?” Tanya Veronica yang telah berpakaian rapi.
            “Aku ingin ke suatu tempat untuk menyelesaikan penelitianku. Kau sendiri?”
            “Ah, aku ingin ke tempat kerja. Kalau begitu mengapa kita tidak pergi bersama-sama saja?” Ajak Veronica.
            “Baiklah.”
            Di sepanjang perjalanan, Veronica tak henti-hentinya untuk berbicara tentang Moskow. Mulai dari masyarakatnya hingga tempat wisata yang harus di kunjungi ketika berada di sini. Ya.. Red Square. Red Square memang telah terkenal di seluruh penjuru dunia dan merupakan simbol dari bumi Rusia.
“Azkar aku ingin bertanya sesuatu. Ini tentang Islam. Tadi malam selepas minum cokelat panas, aku mencari-cari informasi tentang Islam di internet. Aku menemukan kejanggalan di hatiku saat membaca bahwa orang islam harus menghadap kiblat ketika akan beribadah. Nah pertanyaanku, kiblat itu apa? Dan mengapa harus menghadap kiblat ketika ingin beribadah?”
            Pertanyaan Veronica membuat Azkar keheranan. Bagaimana mungkin wanita yang semalam mengatakan bahwa ia seorang Atheis yang tidak percaya dengan adanya Tuhan tiba-tiba saja tertarik untuk membahas soal agama? Benar-benar tidak bisa di mengerti.
            “Baiklah aku mulai dari kiblat dulu. Kiblat adalah kata arab yang merujuk pada arah yang dituju saat seorang muslim berbibadah. Alasan umat muslim harus menghadap kiblat karena itu merupakan ketetapan Tuhan. Selain itu, menghadap kiblat berarti sebagai pembeda umat muslim dengan umat yang lainnya  dan juga sebagai simbol persatuan untuk memudahkan umat muslim dalam beribadah agar tidak kebingungan.”     
            “Oh begitu.” Jawab Veronica singkat.
            “Ya. Kalau aku boleh tahu, pekerjaanmu apa?” Pertanyaan Azkar membuat Veronica tersentak kaget. Entah apa yang membuat wajah wanita ini memucat. “Salahkah pertanyaan ku?” Gumam Azkar dalam hati.
            “Aku bekerja sebagai pemandu wisata di Moskow. Oh ya Azkar, mungkin kita harus berpisah di sini. Aku harus mengambil jalan ke kanan. Semoga sukses.”
 “Ya. Kau juga.” Ujar Azkar sembari melangkahkan kakinya menembus tebalnya salju di sepanjang jalan.
***
            “Terima kasih atas informasinya. Jangan lupa untuk menghubungiku  jika ada perkembangan muslim di sini.” Ujar Azkar sembari bersalaman dengan pria paruh baya yang dikenalnya sebagai pengurus perkampungan muslim yang ia datangi.
            Azkar kemudian menoleh. Matanya tak sengaja menangkap seorang wanita cantik di seberang jalan. Wanita itu sedang berjalan bersama dengan seorang pria yang bertubuh hitam legam, sepertinya berkebangsaan Negro.
            “Veronica!” Azkar mencoba untuk memanggilnya, tapi wanita yang bernama Veronica itu tak kunjung menoleh.
            “Kau kenal dengan wanita itu? Dimana kau mengenalnya?” Tanya Pria pengurus perkampungan itu sembari menunjuk ke arah Veronica.
            “Ya. Dia itu tinggal di apartemen yang sama denganku. Namanya Veronica.”
            “Apa kau tidak tahu siapa wanita itu? Dia itu pelacur yang sangat terkenal di kota Moskow ini.”
            “Tidak mungkin. Dia itu bekerja sebagai pemandu wisata.” Kata Azkar seraya berusaha untuk menjelaskan.
            “Kalau kau tidak percaya. Silahkan ketik nama Veronica Roxane di internet, pasti hasilnya dia itu adalah seorang pelacur yang profesional.”
            “Ah kalau begitu aku mohon pamit. Wassalamu alaikum.” Ucap Azkar sembari melangkahkan kakinya untuk menjauh dari perkampungan itu.
            Pikirannya melayang tak tentu arah. Dia masih tak percaya bahwa wanita yang selama ini yang ia percayai dan ia anggap sebagai wanita yang baik-baik, justru malah mengagetkannya dengan berprofesi sebagai pelacur. Azkar teringat sesuatu yang hampir ia lupakan di Moskow. Ya.. berlibur. Mungkin inilah saat yang tepat untuk melihat megahnya bangunan-bangunan di Red Square.
            Pertama kali ia tiba di kawasan Red Square, seketika itu juga ia telah disuguhkan berbagai pemandangan menakjubkan yang terbentang di depan mata. Tepat didepannya, kini berdirilah sebuah bangunan yang sangat megah, seakan mengisyaratkan bahwa betapa istimewanya bangunan tersebut. Itulah kremlin, yang terkenal di seluruh dunia sebagai benteng bersejarah yang masih menjaga eksistensinya sampai sekarang. Bangunannya mempunyai luas 27,5 ha dengan panjang temboknya lebih dari 2 km. Tidak hanya itu, kremlin juga mempunyai 20 menara. Yang paling terkenal adalah Menara Spasskaya dengan jam bergaris tengah 6m.
            Tak jauh dari bangunan kremlin, persis di seberang Menara Spasskaya terdapat pula bangunan yang tak kalah indahnya dari kremlin. Bangunan yang menjadi ciri khas kota Moskow, apalagi kalau bukan Katredal. Katredal, sebuah bangunan tinggi khas dengan kubahnya yang unik dan menarik, serta berwarna-warni bagaikan lollipop, dulunya dijadikan sebagai gereja bagi Kristen Ortodoks. Bentuk kubahnya menyerupai bentuk bawang, tetapi itulah yang membuatnya semakin menarik bagi pelancong asing. Perpaduan dari arsitruktur Eropa dan Asia menambah keeksotisan bangunan ini. Subhanallah, INILAH RUSIA!
***
            Tampak seorang lelaki bertubuh hitam legam dengan kasarnya sedang menurunkan seorang wanita dari sebuah mobil berwarna merah. Wajah wanita itu terlihat pucat dan memar dimana-mana. Lelaki tersebut kemudian memacu mobil merahnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan wanita itu terbaring lemah tak berdaya di pinggir jalan.
            “Mengapa aku diperlakukan seperti ini? Bukannya aku telah melayaninya dengan baik? Aku bahkan membiarkannya memukulku agar dirinya puas dengan pelayananku.” Gumam wanita itu seraya terbata-bata.
            “Sepertinya tubuhku tidak dapat kugerakkan ditambah salju malam ini telah turun kembali. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?” Ucap wanita itu kembali seraya memandangi sebagian tubuhnya yang telah ditutupi oleh tebalnya salju.
“Tolong… tolong siapa saja tolong aku.” Teriak wanita itu dengan suara parau. Tetapi, percuma saja, tidak ada seorang pun disana. Akhirnya ia menyerah dengan usahanya. Seketika wanita itu tersentak, teringat akan sesuatu yang hampir ia lupakan.
            “Tuhan? Apakah saat-saat inilah aku bisa mempercayai tuhan? Apakah tuhan itu memang benar-benar ada? Tapi apa yang bisa kulakukan selain mempercayai itu? Tuhan, jika engkau memang benar ada, memang menolong semua hambamu. Aku mohon tuhan. Aku mohon tolonglah aku dari salju ini. Aku sudah tak berdaya, aku pasrah tuhan.”
***
            “Astaga aku sampai tidak sadar kalau ini telah jam 11 malam. Aku harus segera pulang keapartemen, jika tidak aku akan menjadi beku kedinginan diluar sini.” Azkar kemudian berjalan dengan cepat menuju apartemennya. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika ia melihat sesuatu yang berkilauan. Ia mendekati sumber kilauan tersebut. Tapi betapa kagetnya ia bahwa kilaun tersebuat adalah cincin yang sedang terpasang dijari seorang wanita.
            “Astaga apakah ini benar-benar manusia? Kasihan sekali dia, Sebagian tubuhnya telah tertutup salju. Hanya jarinya saja yang tak tertutupi.” Azkar kemudian mencoba  menghilangkan salju dari tubuh si wanita. Azkar terkejut saat melihat wanita itu. Itu adalah Veronica. Yah Veronica, yang menjadi teman seapartemennya. Azkar bergegas menggendongnya sambil berlari menuju rumah sakit terdekat.
            Sesampainya di rumah sakit Azkar segera membawanya ke ruang perawatan. Disana ia dipersilahkan duduk untuk menunggu dokter selesai memeriksa Veronica. Setelah agak lama, akhirnya dokter tersebut keluar dan mengatakan bahwa Veronica akan baik-baik saja. Dokter tersebut juga mempersilahkan Azkar untuk masuk ke ruang perawatan Veronica.
            Azkar termenung memandang wajah cantik Veronica yang tengah tertidur. Sesekali ia juga membelai rambut Veronica dengan rasa iba. “Rasanya aku tidak percaya bahwa kau itu adalah seorang pelacur. Bagaimana mungkin wanita seceria dirimu bisa terjerumus kedunia seperti itu. Kau tahu? Saat tadi sore aku melihatmu berjalan dengan pria hitam itu, aku merasa ada sesuatu yang aneh didalam hatiku. Rasanya hatiku itu marah, dan kesal. Tapi aku tak tahu mengapa. Apa mungkin aku suka padamu? Kau adalah seorang Atheis dan aku? Aku adalah seorang muslim. Bagaimana bisa? Sepertinya aku juga sudah gila berbicara padamu yang tengah tertidur.” Azkar tersenyum dan kembali memandang Veronica dengan tatapan yang dalam.
            “Azkar.... kau itu tidak gila. Aku sedari tadi mendengarkan ucapanmu yang panjang itu.” Ujar Veronica dengan terbata-bata.
            Azkar terkejut mendengar perkataan Veronica. Dengan cepat kilat ia menarik tangannya dari rambut Veronica. “Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?” Tanya Azkar khawatir.
            “Ya. Mmm Azkar….mmm maukah kau mmm mengajariku tentang islam?” Kedua mata Azkar kini terbelalak tak percaya mendengar perkataan Veronica. Bagaimana mungkin ini dapat terjadi?
            “Subhanallah, apakah itu benar Veronica? Apa yang membuatmu kini percaya dengan adanya Tuhan?”
            “Soal itu, nanti akan ku ceritakan. Yang pasti aku yang sekarang ini ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan mmm soal kau menyukaiku… aku rasa aku tidak pantas untukmu.” Seketika itu juga raut wajah Azkar yang semula bahagia kini berganti dengan raut wajah yang kecewa.
            “Yah.. aku memang tidak pantas untukmu. Aku ini kotor Azkar, kotor. Bagaimana mungkin aku yang pela…” Belum selesai Veronica bicara, Azkar telah menempelkan jari telunjuk di bibir Veronica.
            “Aku tahu, kau itu adalah seorang pelacur. Bukankah sudah kukatan, aku juga melihatmu berjalan dengan pria berkulit hitam itu. Tapi itu adalah Veronica yang dulu. Veronica sekarang pasti ingin berubah menjadi wanita yang baik. Bukankah begitu? Jadi apalagi yang kau resahkan? Mmm Veronica maukah kau… menerimaku?” Veronica tersentak sembari meneteskan air matanya. Merasa tak percaya dengan semua ini.
            “Azkar, hanya wanita bodoh yang mau menolak permintaan dari pria sebaik dirimu. Dan ya kau tahu jawabannya, aku mau.” Azkar langsung tersenyum lega mendengarnya.
            “Veronica kau tahu? memang Red Square adalah sesuatu yang menarik di Rusia ini dan harus dikunjungi. Tapi hatiku berkata lain, ada sesuatu hal yang menarik selain Red Square di bumi Rusia. Maukah kau tahu apa itu?” Tanya Azkar sembari tersenyum.
            “Memangnya apakah ada hal yang lebih menarik selain Red Square?” Tanya Veronica penasaran.
            “Ya tentu saja ada. Yaitu dirimu.” 



 sertakan pendapatmu di kolom komentar yooo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan lupa komentar yah ^_^

Review My Skin Care Routine: Hada Labo Gokujyun Series

        Hai minna, lama banget nih ga negblog lagi. hampir dua tahunan kali yak, sampe-sampe blog gue udah banyak sarang laba-labanya. kema...